top of page

Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.

Meracik Karier dari Balik Bar

Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma

16 Apr 2026

24.png

Photo: By Titik Koma
Text: By Titik Koma Team

Samarinda (1)_JPG.avif

Perjalanan panjang dilalui Muhammad Rokip, atau yang akrab disapa Rokip, bersama Titik Koma. Lebih dari sekadar tempat bekerja, Titik Koma menjadi ruang yang memberi arah, proses, dan makna penting dalam hidupnya.

“Di Titik Koma, saya merasa bukan cuma kerja, tapi juga tumbuh bersama,” ujar Rokip. 

Saat ini, Rokip menjabat sebagai manager area Malang di Titik Koma. Namun perjalanannya menuju posisi tersebut tidak dimulai dari titik yang nyaman. 

Sebelum memasuki dunia kopi dengan serius, Rokip sempat berada di fase menganggur selama kurang lebih tiga bulan. 

Padahal pengalamannya di dunia F&B saat itu sudah cukup panjang, termasuk pernah bekerja di bagian bar sebuah restoran di Surabaya. 


Awal Perjalanan di Dunia Kopi

Keinginannya untuk mendalami lebih jauh soal kopi dimulai ketika tren coffee shop specialty mulai menjamur pada 2015. Rokip merasa ada passion baru yang ingin dipelajari. 

“Waktu itu saya ingin belajar kopi, ingin tahu lebih dalam, bukan sekadar bikin,” tuturnya.

Sayangnya, keinginan itu tak langsung terwujud. Beberapa kali melamar ke coffee shop, Rokip tak kunjung mendapatkan panggilan, kemungkinan karena belum memiliki pengalaman khusus di bidang kopi. Masa menganggur itu pun menjadi ruang refleksi sekaligus ujian kesabaran. 

Hingga akhirnya, sebuah kesempatan datang dari mantan manajernya yang mengajak Rokip bergabung di sebuah kafe yang menyajikan kopi. Tanpa ragu, ia menerima tawaran tersebut. Keinginannya untuk mendalami kopi tak ingin ia lewatkan begitu saja. 

“Sempat nganggur, sempat merasa bingung, tapi di situ saya yakin kalau mau berkarier berkaitan dengan kopi,” kata Rokip. 

Selama satu tahun bekerja di kafe tersebut, Rokip mulai belajar dan mendalami segala hal tentang kopi. Kendati demikian, ia merasa masih banyak hal yang belum dipahami. 

Pengalaman Rokip itu mendorongnya untuk berada di lingkungan yang lebih serius dan menantang. Dari situlah ia akhirnya melamar ke Titik Koma pada 2016.

“Saya merasa masih kurang, dan Titik Koma kelihatannya tempat yang tepat untuk belajar lebih serius,” ujarnya. 


Melangkah dari Balik Bar Menuju Tanggung Jawab Besar

Bergabung dengan Titik Koma menjadi pengalaman yang cukup menantang. Rokip masuk ke dalam tim yang sebagian besar baristanya telah memiliki latar belakang kuat di dunia kopi. 

“Sempat minder, tapi ya justru itu yang bikin saya ingin belajar lebih banyak,” katanya. 

Selama di Titik Koma, Rokip tak hanya belajar dari sesama barista, tetapi juga dari customer. Banyak pelanggan datang dengan pengetahuan kopi yang baru. 

Dari interaksi itulah Rokip menyadari bahwa dunia kopi tidak akan pernah berhenti untuk dipelajari.

“Di kopi itu nggak ada titik berhentinya. Begitu merasa bisa, justru baru mulai belajar. Masih luas yang saya belum tahu,” ucapnya. 

Seiring berjalannya waktu, pengetahuan Rokip tentang kopi terus berkembang. 

Berangkat dari posisi barista, ia kemudian dipercaya menjadi head bar. Proses belajarnya pun terus berlanjut hingga akhirnya ia menjabat sebagai manager area Titik Koma Malang.

Satu dekade perjalanan Rokip bersama Titik Koma tak singkat dan jauh dari kata mudah.

“Semua dijalani pelan-pelan, dari barista sampai akhirnya dipercaya pegang tanggung jawab lebih besar,” tutur Rokip.

Kini bagi Rokip, aktivitas sebagai manager area tak serta merta membuatnya  meninggalkan dunia kopi. 

Ia tetap turun ke bar dan membuat kopi karena di sanalah passion-nya berada.

“Kalau terlalu lama nggak bikin kopi, rasanya malah kaku,” kata Rokip.

Dari masa menganggur hingga dipercaya memegang peran manager, perjalanan Rokip di Titik Koma adalah cerita tentang proses, kepercayaan, dan ketekunan untuk terus belajar.

“Selama masih di kopi, saya bakal terus belajar,” ucapnya. 

More Happenings
PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Tasting Notes

Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Ketintang Riverside

Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Belajar Dewasa

Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Berapa Cangkir Per Hari?

Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Iced Coffee dan Kopi Susu

Cara Kita Menikmati Kopi

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Merawat yang Ada

Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Filosofi Brand Titik Koma

Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Meracik Karier dari Balik Bar

Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma

16 Apr 2026

Contetns_150x-8.png
bottom of page