top of page

Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.

Filosofi Brand Titik Koma

Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari

19 Apr 2026

24.png

Photo: By Titik Koma
Text: By Titik Koma Team

Samarinda (1)_JPG.avif

Tidak semua orang datang ke coffee shop untuk mencari hal baru. Sebagian justru datang karena ingin rasa yang sama seperti kemarin, tempat yang familiar, dan pengalaman yang tidak perlu terlalu banyak dipikirkan.

Di Titik Koma, cara pandang tentang rutinitas ini menjadi dasar dari filosofi everyday coffee

Bagi Andrew Prasetya Goenardi, Chief Executive Officer sekaligus salah satu pendiri Titik Koma, kopi bukan soal seberapa unik rasanya, melainkan seberapa jauh ia bisa menemani rutinitas. 

“Kopi itu kan rasanya macam-macam,” katanya. “Ada yang fruity, ada yang rempah, bahkan ada yang terasa funky dan strong. Tapi saya mencari, ada nggak sih rasa yang ‘tengah’, yang mayoritas orang bisa bilang ini enak?”

Pencarian rasa “tengah” itulah yang kemudian membentuk arah Titik Koma. Rasa yang tidak terlalu menuntut, mudah diterima, dan tidak bikin kapok jika diminum berulang kali. 

Sebuah pendekatan yang membutuhkan konsistensi jangka panjang.

Memaknai Filosofi Everyday Coffee

Pengalaman personal Andrew juga ikut membentuk cara pandang ini. Ia tumbuh dengan kebiasaan minum kopi hampir setiap hari. Dua hingga tiga cangkir bukan hal yang asing baginya. 

“Awalnya senang coba yang beda-beda. Tapi ujung-ujungnya selalu ada kopi yang membuat kita kembali lagi, yang paling nyaman,” ucapnya.

Ia menyadari pola itu bukan hanya miliknya. “Minum yang baru itu senang sesekali. Tapi kalau setiap hari, orang akan balik ke satu atau dua rasa yang paling familiar,” ujarnya. 

Dari situ muncul analogi yang sering ia gunakan. “Orang Jogja makan gudeg setiap hari nggak apa-apa. Orang Sumatera makan nasi padang tiap hari juga biasa saja. Konsep daily itu memang tergantung lifestyle.”

Filosofi everyday coffee ini kemudian diterjemahkan ke dalam pemilihan biji kopi dan profil rasa yang melewati proses panjang. 

“Kita harus coba-coba dan tasting terus sampai ketemu rasa yang kita cari,” katanya. Yang dijaga bukan hanya kualitas, tapi juga konsistensi rasa hingga akhir.

Contohnya ada pada salah satu blend utama Titik Koma: To The Moon. Profil rasa blend yang satu ini memang cenderung cokelat dan nutty, dengan sedikit sentuhan citrus

“Rasa yang hampir semua orang suka,” kata Andrew. 

Meski komposisi biji bisa berubah secara musiman, target rasanya harus tetap serupa. “Kalau panen tahun ini kurang bagus, kita ganti. Tapi ujung rasanya harus mirip,” tambahnya.



Coffee Shop Sebagai Ruang Publik

Bagi Titik Koma, rasa kopi hanyalah satu bagian dari pengalaman. Ketika kopi diminum setiap hari, yang ikut dipikirkan bukan hanya rasanya, tetapi juga ruang tempat orang menghabiskannya. 

Dari situ, Andrew memandang coffee shop sebagai ruang publik, terutama di Jakarta.

Coffee shop itu public space,” katanya. Orang datang dengan berbagai kebutuhan dan latar belakang. Tidak semuanya peminum kopi, maka di sinilah konsep menu engineering berperan. 

“Empat orang datang ke Titik Koma, bisa jadi cuma satu yang suka kopi. Sisanya mungkin mencari minuman lain. Harus ada opsi untuk anak, klien, orang meeting, semua harus bisa dapat sesuatu,” sambung Andrew.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan pengalaman yang lebih luas. Andrew menyebut kopi sebagai bagian dari ‘kemasan’ yang lebih besar. 

“Ini packaging untuk ngopi yang dibungkus dengan servis dan ambience.” 

Cahaya, suhu ruangan, musik latar, kursi, hingga suasana keseluruhan juga harus mendukung. 

“Tamu datang, barista senyum, tempatnya dingin, itu experience.”

Kesadaran bahwa pelanggan punya banyak pilihan juga memengaruhi cara Titik Koma memosisikan diri. 

“Customers have good options,” kata Andrew. 



Menjaga Konsistensi di Tengah Tren

Andrew percaya ia tidak bisa membuat semua orang senang. Baginya, itu bukan masalah. 

Coffee shop dengan 100 hingga 150 kursi tetaplah kecil dibanding populasi satu kota. “Kalau orang nggak cocok sama rasa kita, ya nggak apa-apa.” ucapnya.

Dari kesadaran itu, Titik Koma pun tidak merasa perlu ikut setiap tren yang lewat. Andrew sejak awal memahami bahwa tidak semua orang harus cocok dengan apa yang mereka buat.

“Kalau orang mau cari minuman yang unik-unik, biasanya mereka ke tempat lain,” katanya

Ia mengibaratkan coffee shop sebagai third home. Sesekali memang ada menu edisi khusus, tapi tidak sering. “Orang datang cari minuman yang familiar,” ujarnya. 

Konsistensi ini bukan tanpa risiko. Andrew sadar ada segmen yang mungkin merasa bosan karena tidak ada hal baru setiap waktu. Namun ia melihatnya sebagai realitas yang wajar. 

“Orang bisa langganan nasi uduk buat sarapan, tapi malamnya makan di restoran Jepang. Satu orang nggak cuma datang ke satu tempat,” katanya.

Yang dijaga Titik Koma adalah posisinya dalam rutinitas itu. “Kita cuma bagian kecil dari hidup mereka. Saat mereka butuh kopi dan tempat yang nyaman, ya kita ada di situ.” 

Andrew menyebut pendekatan ini sebagai sesuatu yang boringly predictable. Bukan karena membosankan dalam arti negatif, tetapi karena rasanya bisa ditebak dan itu justru menenangkan.

Tidak ada kejutan besar, tidak ada lonjakan rasa yang ekstrem, tapi pengunjung tahu apa yang akan mereka dapatkan setiap kali datang.

Bagi Andrew, konsistensi semacam ini lebih berharga daripada popularitas yang datang sesaat lalu pergi.

Dalam perjalanannya, Andrew melihat banyak kafe datang dan pergi. Ada kafe yang sudah lama, lalu 30 kompetitor buka. Orang mungkin mencoba yang baru, tapi banyak yang kembali. 

Alasannya sederhana, “Di sini yang paling konsisten.”

Di balik layar, konsistensi itu dijaga lewat kebiasaan sehari-hari. Semua orang di Titik Koma, termasuk yang tidak bekerja langsung di kafe, diminta mengenal produknya. 

“Semua harus minum kopi kita. Harus tahu rasanya,” kata Andrew. 

Ketika rasa sedikit melenceng, mereka harus peka. Bagi tim operasional, ini bagian dari pekerjaan. Bagi yang lain, ini menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, filosofi Titik Koma tidak dibangun dari keinginan untuk selalu terlihat baru. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa yang dicari banyak orang justru sesuatu yang bisa diandalkan.

Rasa yang tidak melelahkan. Ruang yang aman untuk kembali. Kopi yang seperti gudeg di Jogja atau nasi padang di Sumatera, terasa wajar untuk dinikmati setiap hari.

More Happenings
PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Tasting Notes

Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Ketintang Riverside

Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Belajar Dewasa

Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Berapa Cangkir Per Hari?

Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Iced Coffee dan Kopi Susu

Cara Kita Menikmati Kopi

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Merawat yang Ada

Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Filosofi Brand Titik Koma

Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Meracik Karier dari Balik Bar

Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma

16 Apr 2026

Contetns_150x-8.png
bottom of page