Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.
Iced Coffee dan Kopi Susu
Cara Kita Menikmati Kopi
19 Apr 2026

Tinggal di negara tropis membuat masyarakat Indonesia terbiasa dengan kondisi iklim panas, dengan matahari yang hampir selalu ada sepanjang tahun.
Bagi Andrew Prasetya Goenardi, CEO sekaligus salah satu pendiri Titik Koma, kondisi ini ikut memengaruhi cara menikmati kopi dalam keseharian orang Indonesia.
Di Titik Koma, pemahaman terhadap kebiasaan ini bukan sekadar data penjualan, tapi bagian dari cara membaca budaya.
“Indonesia itu negara yang sangat panas, jadi kita mayoritas mengonsumsi iced coffee,” kata Andrew.
Ia menyebut bahwa hampir 80 persen konsumsi kopi di Indonesia adalah kopi dingin, angka yang menurutnya secara alami membedakan Indonesia dari Amerika Serikat, Australia, atau negara-negara Eropa. Bukan karena preferensi rasa semata, tapi karena konteks tempat tinggal masyarakatnya.
Perbedaan ini membuat cara orang Indonesia berinteraksi dengan kopi menjadi berbeda. Bagi Andrew, kebiasaan minum kopi di sini tidak bisa dilepaskan dari keseharian.
“Cara kita mengonsumsi kopi memang berbeda dengan negara lain,” ujarnya.
Dalam konteks negara tropis, Andrew melihat kopi bukan sekadar minuman untuk menghangatkan tubuh, tetapi bagian dari rutinitas harian yang diminum di berbagai waktu.
Selain soal suhu, ada faktor budaya lain yang tak kalah kuat. “Secara budaya, kita terbiasa mengonsumsi kopi dengan gula,” kata Andrew.
Kebiasaan ini sudah lama ada, jauh sebelum istilah specialty coffee dikenal luas.
Kopi Susu dan Cara Kita Memandangnya
Dalam beberapa tahun terakhir, bentuk paling populer dari kebiasaan itu hadir lewat kopi susu gula aren, minuman yang semakin sering ditemui di berbagai coffee shop, dari skala kecil hingga jaringan besar.
Namun, popularitas minuman ini tidak selalu diiringi dengan penerimaan yang sama dari semua pelaku industri. Andrew melihat ada kecenderungan sebagian pihak memosisikan kopi susu sebagai lawan dari kopi berkualitas.
“Ada yang bilang ini bukan kopi yang bagus,” kata Andrew, merujuk pada narasi yang kerap muncul di kalangan tertentu. Padahal, menurutnya, yang terjadi bukan soal kualitas, melainkan soal sudut pandang.
Ia membandingkan kondisi ini dengan negara lain. Di Vietnam misalnya, minuman kopi lokal justru menjadi identitas yang terus dikembangkan. Bukan disingkirkan, tapi ditingkatkan kualitasnya.
Titik Koma tetap menyajikan menu kopi dengan standar global, americano, latte, dan varian lainnya. Namun di saat yang sama, minuman lokal juga diberi perhatian yang sama seriusnya.
“Kita embrace. Minuman lokal juga kita elevate,” lanjutnya.
Salah satu contohnya terlihat pada kopi susu yang disajikan Titik Koma, yang diracik dengan pendekatan tertentu agar rasanya tetap seimbang dan konsisten.
Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa minuman khas Indonesia tidak harus ditinggalkan demi mengejar citra tertentu. Justru sebaliknya, identitas lokal bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan tepat.
Menemukan Identitas dari Kopi Indonesia
Andrew melihat tantangan terbesar industri kopi Indonesia bukan pada kreativitas, melainkan pada kesatuan arah.
“Kalau kita bisa bersatu buat mengangkat kopi susu sebagai minuman kopi khas Indonesia, kita sebenarnya punya peluang besar,” ungkap Andrew.
Peluang itu bukan hanya untuk pasar dalam negeri, tapi juga untuk memperkenalkan karakter kopi Indonesia ke luar negeri dengan cara yang relevan dan membumi.
Menurutnya, setiap negara punya ciri khas sendiri dalam menikmati kopi. Vietnam dengan Vietnamese iced coffee, Australia dengan berbagai minuman turunan yang berkembang dari budaya kafenya, hingga negara-negara lain yang menyesuaikan kopi dengan musim dan kebiasaan lokal. Indonesia pun seharusnya bisa berdiri dengan caranya sendiri.
“Kita harus bisa punya minuman khas kita sendiri,” tegas Andrew.
Di balik semua diskusi tentang iced coffee dan kopi susu, Andrew melihat satu benang merah yang lebih besar, “It’s a matter of culture,” katanya.
Bagi Titik Koma, kopi bukan hanya soal teknik seduh atau asal biji, tapi tentang bagaimana sebuah minuman hadir dalam kehidupan sehari-hari banyak orang.
Tentang kebiasaan yang berulang, rasa yang familiar, dan pengalaman yang tidak terasa asing.
Pendekatan ini membuat Titik Koma tidak terburu-buru mengikuti tren, tetapi memilih membaca apa yang memang sudah ada di sekitar.
All Updates

BREWS & CULTURE
More Than Just Coffee, Titik Koma is About Brewing Culture and Its
More Happenings

Titik Koma Tasting Notes
Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives
16 Apr 2026

Titik Koma Ketintang Riverside
Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya
19 Apr 2026

Belajar Dewasa
Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma
16 Apr 2026

Berapa Cangkir Per Hari?
Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?
16 Apr 2026

Iced Coffee dan Kopi Susu
Cara Kita Menikmati Kopi
19 Apr 2026

Merawat yang Ada
Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren
19 Apr 2026

Filosofi Brand Titik Koma
Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari
19 Apr 2026

Meracik Karier dari Balik Bar
Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma
16 Apr 2026



