top of page

Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.

Titik Koma Ketintang Riverside

Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya

19 Apr 2026

24.png

Photo: By Titik Koma
Text: By Titik Koma Team

Samarinda (1)_JPG.avif

Tidak semua gerai Titik Koma lahir dari rencana besar. Beberapa justru muncul di fase ketika brand ini masih mencari bentuk dan arah, sebelum akhirnya berkembang seperti yang dikenal sekarang. 

Titik Koma Ketintang Riverside, Surabaya, adalah salah satunya. Sebuah store yang tumbuh bersamaan dengan proses repositioning Titik Koma itu sendiri.

“Kita ini repositioning beberapa tahun terakhir. Dulu, posisinya memang belum se-premium sekarang,” ungkap Chief Operating Officer dan salah satu pendiri Titik Koma, Ditya G. Wardhana, atau yang akrab disapa Adit.

Ketika kesempatan membuka gerai di Ketintang datang, semuanya terasa sejalan dengan kondisi Titik Koma saat itu. Dari segi demografi, daya beli, hingga karakter kawasan, semuanya terasa masuk.

Lokasinya sendiri tidak biasa. Gerai Ketintang berada di pinggir sungai, di area yang sebelumnya merupakan warung kopi sederhana.

“Kebetulan dapet lokasi yang lucu di pinggir sungai, bener-bener sebagai warung kopi,” kata Adit. 


Ketintang dan Perubahan Titik Koma

Dalam konteks posisi Titik Koma saat itu, tempat di Ketintang memang tidak ditujukan untuk investasi besar. Format yang dipilih sederhana, tanpa renovasi berlebihan dengan fokus menjaga rasa tetap konsisten.

Karena itu, suasana Ketintang sejak awal terasa terbuka. Banyak area outdoor, dengan batas yang minim antara pengunjung dan lingkungan sekitar. 

Namun seiring berjalannya waktu, arah Titik Koma mulai berubah dan Ketintang ikut terdampak. Brand ini mulai bergerak ke posisi yang lebih premium baik dari sisi harga, pengalaman, hingga ekspektasi. Perubahan itu otomatis menuntut Ketintang untuk ikut bertumbuh.

Tanpa renovasi besar-besaran, perbaikan dilakukan secara bertahap. Kenyamanan menjadi fokus. Tanaman ditambahkan, estetika dirapikan, pengalaman customer diperbaiki. 

“Yang pasti rasa konsistensi kita tetap tidak bergeser, kita menjaga kualitas dengan segala keterbatasannya. Akhirnya sekarang sih, kita punya basis customer yang kuat ya di situ,” kenang Adit. 

Ketintang pun berkembang menjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya direncanakan di awal.

Salah satu daya tarik terkuat Ketintang terletak pada karakter outdoor-nya. 

Dari area duduk, pengunjung bisa melihat aliran Sungai Brantas, jembatan, dan lalu lintas jalan besar di seberangnya, cukup dekat untuk terasa hidup, cukup jauh untuk tetap nyaman.

Dengan suasana seperti ini, Ketintang perlahan berfungsi bukan hanya sebagai tempat minum kopi, tetapi juga ruang berkumpul. Komunitas mulai datang. Ada acara stand-up comedy, diskusi sastra, book market, hingga pertunjukan musik. 

Adit melihat ini sebagai respons alami sebuah kota terhadap keterbatasan ruang publik.

“Surabaya memang bisa dibilang tidak banyak memiliki ruang publik. Untuk kota besar seperti ini, memang butuh ruang terbuka.”


Ketintang Sebagai ‘Training Camp

Konsep outdoor nyatanya turut membawa tantangan operasional. Tidak semua area terlihat langsung dari bar. 

Barista harus lebih sering berkeliling. Area lebih cepat kotor karena tanaman dan lingkungan terbuka. Selain itu, mobilitas penyajian minuman juga menjadi lebih panjang. 

Tidak hanya itu, tantangan juga muncul dari jumlah staf yang tidak terlalu banyak dan peralatan yang digunakan.

“Kalau secara full operasional, teman-teman bar di sana memang harus lebih sering keliling untuk melakukan pengecekan,” kata Adit. 

Kondisi ini membuat proses menjaga kualitas menjadi lebih menantang, tetapi juga memicu efek yang tidak terduga. Tekanan, keterbatasan, dan kompleksitas membuat tim di Ketintang terlatih secara mental.

Adit menyebut Ketintang sebagai semacam “training camp”, bukan dalam arti program resmi, melainkan lewat keseharian yang penuh keterbatasan dan tantangan. 

Banyak talenta tumbuh dari store ini. Bukan hanya dari sisi teknis kopi, tapi juga dari ketahanan dan tanggung jawab para staf. 

Nilai-nilai inilah, menurut Adit, yang ikut membentuk DNA Titik Koma.

Peran Ketintang pun tidak berhenti di situ. Gerai ini sering menjadi tempat uji coba. SOP baru, resep, sistem, hingga perubahan aplikasi pertama kali diterapkan di sini. 

Proses ini tidak mudah karena tim harus menjalankan sistem lama dan baru secara bersamaan, sambil tetap melayani pelanggan.

“Kalau sesuatu itu possible di Ketintang, berarti possible di yang lain,” ujar Adit. 


Happy Baristas, Happy Customers

Di balik semua dinamika itu, Adit menekankan nilai yang ingin tetap dijaga. Filosofi yang ditanamkan di Ketintang dan dibawa ke seluruh Titik Koma adalah peace, joy, dan growth

Peace artinya saya ingin teman-teman feel peaceful saat bekerja,” katanya. Yang dimaksud Adit bukan lingkungan kerja yang steril dari masalah, melainkan suasana tanpa konflik yang tidak perlu atau kompetisi yang tidak sehat.

Konflik tidak bisa dihindari, namun Adit ingin memastikan konflik tetap sehat dan tidak berubah menjadi tekanan yang membuat orang merasa tidak aman untuk bekerja.

Nilai kedua adalah joy. Bekerja, menurut Adit, tidak seharusnya hanya soal bertahan. 

“Kita kerja, kalau nggak happy buat apa?” katanya. Ia ingin timnya menikmati proses bekerja, bertemu rekan kerja, menjalani hari, dan merasa antusias dengan apa yang dilakukan. 

“Saya senang kalau datang ke toko dan ketemu barista yang excited,” ujarnya menyebut momen sederhana itu sebagai tanda bahwa suasana kerja yang sehat benar-benar terasa.

Nilai terakhir adalah growth. Pertumbuhan ini tidak hanya dimaknai sebagai kenaikan posisi, tapi juga pengembangan diri secara menyeluruh. 

“Baik itu secara penghasilan, kesejahteraan, secara skill, dan karier juga,” kata Adit. Ia menyadari bahwa kesempatan di satu tempat terbatas, namun berharap setiap orang yang pernah bekerja di Titik Koma membawa bekal yang cukup untuk melangkah ke tahap berikutnya. 

At least, selama di sini mereka growth,” ujarnya. 

Bagi Adit, ketiga nilai ini saling terhubung. Peace menciptakan rasa aman, joy menumbuhkan semangat, dan growth memberi arah. 

“Kalau mau disederhanakan, kami percaya bahwa happy baristas will make happy customers.” 

Prinsip sederhana ini menjadi fondasi Ketintang. Bukan hanya sebagai tempat beroperasi, tetapi sebagai ruang belajar dan bertumbuh bagi orang-orang di dalamnya.

More Happenings
PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Tasting Notes

Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Titik Koma Ketintang Riverside

Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Belajar Dewasa

Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Berapa Cangkir Per Hari?

Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?

16 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Iced Coffee dan Kopi Susu

Cara Kita Menikmati Kopi

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Merawat yang Ada

Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Filosofi Brand Titik Koma

Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari

19 Apr 2026

PROPP_KOPITITIKKOMA_2023_05_31.avif

Meracik Karier dari Balik Bar

Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma

16 Apr 2026

Contetns_150x-8.png
bottom of page