Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.
Tumbuh Bersama
Cerita Enam Tahun Daniel di 'Rumah Kedua'
16 Apr 2026

Enam tahun lalu, Doli Daniel Setiawan atau yang akrab disapa Daniel datang ke Titik Koma di saat semuanya masih serba dirintis.
Brand kopi asal Surabaya itu baru memulai langkah awal ekspansinya ke Jakarta.
Daniel bergabung saat Titik Koma hadir di pameran yang di gelar di Balai Sarbini, Jakarta. Ia melihat sendiri bagaimana Titik Koma berkembang dari outlet yang menurutnya masih sederhana, hingga kini memiliki identitas ruang yang khas.
Baginya, perubahan itu bukan sekadar visual, tapi juga soal cara kerja, sistem, dan berkembangnya brand dalam menghadapi tantangan.
“Progress-nya sih udah banyak ya, dari kita membangun di awal sampai Titik Koma yang sekarang,” ucapnya.
Salah satu fase paling berkesan bagi Daniel adalah masa pandemi. Di saat banyak bisnis harus tutup, Titik Koma justru berusaha bertahan.
Bagi Daniel, ini bukan hasil kerja satu orang, melainkan hasil kolektif dari seluruh tim yang saling mendukung.
Sejak menjadi barista hingga kini sebagai area manager operasional Jakarta-Tangerang, Daniel melihat kontribusinya bukan sebagai sosok paling depan, melainkan sebagai bagian dari tim.
Prinsipnya sederhana: tumbuh dan belajar bersama. Ia percaya bahwa keberhasilan Titik Koma hari ini, lahir dari keterbiasaan kerja yang mendorong individu untuk berkembang.
Rasa yang Konsisten di Setiap Cangkir
Daniel menilai, Titik Koma sudah memiliki fondasi yang kuat sejak awal. Ia pertama kali mengenal Titik Koma lewat outlet pertamanya di Surabaya, dan sejak itu melihat konsistensi dalam kualitas bahan serta pendekatan specialty coffee.
“Dari pertama kali kenal Titik Koma, menurut saya udah specialty. Bahan-bahannya premium, bijinya diperhatikan dengan baik, dari awal rasanya udah oke banget,” jelasnya.
Namun bagi Daniel, kualitas kopi tidak berhenti di bahan baku. Cara handling, rasio, dan konsistensi di antara para barista menjadi yang paling penting.
“Kita nggak mau cuma satu orang yang bisa bikin kopi enak, maunya seluruh tim itu sama,” tuturnya.
Sebagai area manager operasional, Daniel aktif terlibat dalam quality control dan evaluasi rutin. Ia berdiskusi langsung dengan supervisor dan head bar, bahkan turun ke outlet untuk mengamati interaksi barista dengan pelanggan.
Menurutnya, budaya diskusi menjadi bagian penting dari cara kerja di Titik Koma. Setiap kopi baru, perubahan equipment, hingga penyesuaian SOP dibahas bersama.
Proses ini dilakukan secara bersama agar setiap anggota tim merasa terlibat dan bertanggung jawab.
Saat ini, Daniel bertanggung jawab mengelola barista di wilayah Jakarta-Tangerang. Tantangan terbesarnya bukan hanya mengatur operasional, tetapi menumbuhkan kemauan belajar di setiap individu.
Ia menilai, passion menjadi kunci utama sebelum adanya keterampilan yang kuat.
“Kalau passion-nya nggak ada, itu sulit. Tapi kalau udah mau belajar, semuanya jadi lebih mudah,” ujar Daniel.
Meski berada di posisi tingkat manager, Daniel tidak menjaga jarak dengan pekerjaan di bar. Ia masih sesekali membuat kopi sendiri, melatih barista, dan memastikan dirinya tetap dekat dengan proses dasar yang membentuk Titik Koma.
“Aku juga nggak mau cuma duduk, kadang bikin kopi sendiri supaya tidak lupa cara bikin kopi.”
Hal-hal sederhana seperti cara menawarkan menu atau menjelaskan pilihan kopi juga menjadi perhatian.
“Customer datang, nikmati kopi kita, terus pulang dengan perasaan happy karena nikmatin kopi dari Titik Koma,” katanya.
Titik Koma Sebagai Rumah Kedua
Lebih dari enam tahun bersama Titik Koma membawa perubahan besar dalam hidup Daniel.
Dari kestabilan finansial hingga kesempatan mengembangkan diri melalui pelatihan dan kursus kopi yang disediakan oleh Titik Koma. Ia merasa kebutuhan tim diperhatikan secara serius oleh manajemen.
Bagi Daniel, Titik Koma bukan sekadar tempat bekerja. Ia menyebutnya sebagai rumah kedua, tempat ia menghabiskan sebagian besar waktunya dan membangun rasa kekeluargaan yang kuat dengan tim.
“Saya anggap Titik Koma itu rumah kedua,” ucapnya.
Ke depan, Daniel memiliki mimpi besar untuk Titik Koma, termasuk membawa brand ini ke negara-negara lain seperti Jepang.
Ia juga berharap Titik Koma tetap menjadi ruang yang tumbuh bersama manusia di baliknya, menjaga kualitas kopi, dan menghadirkan pengalaman yang tidak bisa dilupakan bagi setiap pelanggan yang datang.
All Updates

BREWS & CULTURE
More Than Just Coffee, Titik Koma is About Brewing Culture and Its
More Happenings

Titik Koma Tasting Notes
Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives
16 Apr 2026

Titik Koma Ketintang Riverside
Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya
19 Apr 2026

Belajar Dewasa
Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma
16 Apr 2026

Berapa Cangkir Per Hari?
Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?
16 Apr 2026

Iced Coffee dan Kopi Susu
Cara Kita Menikmati Kopi
19 Apr 2026

Merawat yang Ada
Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren
19 Apr 2026

Filosofi Brand Titik Koma
Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari
19 Apr 2026

Meracik Karier dari Balik Bar
Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma
16 Apr 2026



