Titik Koma is a specialty coffee chain established in 2016 that has grown to 47 stores across 18 cities in Indonesia, serving high-quality iced coffee, ceremonial matcha, and signature plant-based lattes to everyday people.
Merawat yang Ada
Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren
19 Apr 2026

Ada kafe yang dibangun dari rencana besar sejak awal. Ada pula yang lahir dari sebuah kesempatan, lalu tumbuh pelan-pelan mengikuti ruang yang ditempatinya. Titik Koma berada pada kategori yang kedua.
Store Titik Koma di Tanjung Duren bermula bukan dari pencarian lokasi dengan konsep tertentu, melainkan dari sebuah rumah lama yang menawarkan banyak kemungkinan dan kesempatan.
“Waktu itu kita dapat opportunity untuk buka coffee shop di situ,” ujar Andrew Prasetya Goenardi, CEO sekaligus salah satu pendiri Titik Koma.
Bangunan yang menarik hati itu adalah rumah tinggal dari era 1970-an, milik sebuah keluarga di kawasan Tanjung Duren.
“It’s a very nice house. Secara arsitektur juga menarik.”
Rumah tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempat tinggal pribadi. Desainnya terinspirasi dari masjid di Cirebon, dengan karakter ruang yang terbuka di area luar.

Bagi Andrew, daya tarik utamanya justru ada di ruang terbuka tersebut. “Enak banget buat menikmati kopi di taman. Dan di Jakarta Barat, cukup susah menemukan tempat dengan konsep taman seperti ini,” katanya.
Pada tahap awal, Titik Koma tidak berusaha mengubah karakter rumah tersebut. Area dalam hanya memanfaatkan dua ruangan di sisi kiri bangunan.
“Indoor-nya waktu itu cuma dua ruangan, dengan kursi dan meja seadanya untuk duduk di dalam,” jelas Andrew.
Sebaliknya, area taman justru diperluas fungsinya. Tempat duduk diperbanyak, menjadikan kebun sebagai area yang penuh experience.

Tanjung Duren Sebagai Titik Awal
Sekitar 1,5 tahun setelah beroperasi pada 2023, kesempatan baru kembali datang. Titik Koma diberi izin untuk memperluas area ke ruangan yang kini menjadi area terbesar di Tanjung Duren.
“Di situ kita baru bikin bar di bagian tengah,” kata Andrew.
Perluasan ini tetap berangkat dari prinsip yang sama: menonjolkan keunikan rumah, bukan menutupinya.
Proses tidak mudah. Pemilik rumah sangat menyayangi bangunan yang dibangun oleh mendiang suaminya.
Andrew mengingat ada satu pesan yang disampaikan tegas sejak awal oleh sang pemilik: “Rumah ini tidak boleh diubah sama sekali.”
Batasan itu menjadikan proyek Tanjung Duren sebagai salah satu yang paling menantang. Setiap intervensi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
“Mengebor saja harus izin satu-satu. Tidak boleh sembarangan. Lantai juga tidak boleh dilubangi,” jelasnya.

Tim Titik Koma harus memikirkan dengan cermat bagaimana menghadirkan fungsi kafe tanpa merusak elemen apa pun.
“Kita hanya bisa menambahkan, tapi tidak boleh mengurangi apa pun.”
Desain interior mengikuti tone asli rumah tahun 1970-an, dengan memakai banyak unsur kayu dan marble. Material dipilih bukan untuk menciptakan kesan baru, melainkan untuk menyatu dengan karakter bangunan yang sudah ada.
Pendekatan yang hati-hati ini tidak hanya berhenti di desain ruang. Ia juga memengaruhi cara Titik Koma memosisikan store ini secara brand.
Saat itu, Titik Koma belum memiliki flagship store, sehingga Tanjung Duren memegang peran khusus: bukan sekadar sebagai cabang, tetapi sebagai standar yang ingin dibangun ke depan.
“Waktu dapat di Tanjung Duren, kita langsung bilang, ini nggak bisa dibuat sembarangan,” ujar Andrew.
Konsep pun dibuat berbeda dari store Titik Koma lainnya. Menu disusun lebih kompleks, barista lebih banyak, dan level pelayanan yang ditingkatkan.

Menjaga Harmoni dengan Lingkungan Sekitar
Respons customer ternyata positif. Store di Tanjung Duren menjadi ramai, dan dari situlah banyak hal yang kemudian diterapkan di store Titik Koma lainnya. Namun bagi Andrew, yang terpenting adalah pengalaman yang ditawarkan.
“Kita mau menyediakan tempat buat orang bisa menikmati kopi di kebun, biar rasanya kayak oasis di tengah Jakarta Barat,” ucapnya.
Andrew menegaskan bahwa konsep ini bukan hasil pencarian lokasi yang disesuaikan dengan ide tertentu. “Bukan kita punya konsep dulu lalu cari tempatnya. Justru kebalikannya. Kita mendapat tawaran di tempat ini, lalu kita berpikir, kita bisa bikin apa di sini.”
Pendekatan ini, menurut Andrew, selalu menjadi cara kerja Titik Koma dalam melihat ruang, membaca konteks yang sudah ada, lalu menyesuaikan diri di dalamnya.

Konteks yang dimaksud bukan hanya bangunan, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Tanjung Duren berada di tengah area perumahan, sehingga sejak awal relasi dengan tetangga menjadi pertimbangan penting.
“Kita harus benar-benar harmonis,” ujar Andrew.
Prinsip ini kemudian memengaruhi keputusan-keputusan operasional sehari-hari. Salah satunya adalah jam operasional yang ditetapkan hingga pukul delapan malam.
“Awal-awal, setiap hari jam delapan kita harus minta tamu untuk tenang,” katanya.
Selama hampir dua tahun, suasana harus benar-benar sunyi setelah jam tersebut. Awalnya, aturan ini terasa sebagai keterbatasan, namun seiring waktu justru menjadi ciri yang diingat orang.
Cerita ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut. “Orang jadi tahu, tempatnya bagus, tapi harus datang lebih awal,” ujar Andrew.
Dari situ, batasan yang semula terasa menyulitkan perlahan berubah menjadi bagian dari identitas tempat.

Kopi yang Jadi Titik Tengah Ruang
Di balik tampilannya yang terlihat sederhana, store Titik Koma di Tanjung Duren menyimpan banyak keputusan yang dipikirkan dengan serius.
“Level paling susah itu bikin sesuatu yang kelihatannya seperti ‘cuma begini’, padahal itu sangat intentional,” kata Andrew. Tantangannya justru ada pada hal-hal yang tampak biasa di mata pengunjung.
Menurut Andrew, kafe tidak hanya soal bentuk interior atau arsitektur. Yang dirancang adalah suasana dan pengalaman secara keseluruhan. Karena itu, proses desainnya dibuat pelan dan tidak kaku, agar setiap bagian terasa menyatu dan nyaman digunakan.
Salah satu hal yang paling terasa adalah bagaimana bangunan ini berinteraksi dengan lingkungannya. “Desain rumahnya memungkinkan angin berputar,” ujar Andrew.

Aliran angin ini membuat area terasa lebih sejuk, dengan suara daun dari taman yang ikut terdengar.
Pada satu waktu, tim internal bahkan sempat menyebut konsep ini sebagai ‘Titik Koma Angin’.
Keputusan lain yang cukup mencolok adalah penempatan bar di tengah ruangan. Dari sisi operasional, ini bukan pilihan yang mudah.
Namun bar di tengah dipilih sebagai keputusan visual yang sekaligus menunjukkan posisi kopi di dalam ruang. Dengan bar di tengah, ke mana pun pengunjung duduk, aktivitas barista selalu terlihat.
Di Titik Koma Tanjung Duren, pengunjung tidak hanya memesan kopi, tetapi juga melihat langsung prosesnya sebagai bagian dari pengalaman berada di dalam sebuah kafe.
“Coffee is our heart, the center of it all is the coffee,” kata Andrew.
All Updates

BREWS & CULTURE
More Than Just Coffee, Titik Koma is About Brewing Culture and Its
More Happenings

Titik Koma Tasting Notes
Collaboration inspirée des rues thaïlandaises et de leurs saveurs vives
16 Apr 2026

Titik Koma Ketintang Riverside
Store yang Bertumbuh Bersama Perubahan Brand di Surabaya
19 Apr 2026

Belajar Dewasa
Di Usia 18, Nora Belajar Dewasa Bersama Titik Koma
16 Apr 2026

Berapa Cangkir Per Hari?
Berapa Cangkir Kopi Per Hari yang Aman untuk Kesehatan?
16 Apr 2026

Iced Coffee dan Kopi Susu
Cara Kita Menikmati Kopi
19 Apr 2026

Merawat yang Ada
Cerita Flagship Store Titik Koma di Tanjung Duren
19 Apr 2026

Filosofi Brand Titik Koma
Mencari Rasa yang Bisa Kembali Pulang Setiap Hari
19 Apr 2026

Meracik Karier dari Balik Bar
Cerita 10 Tahun Rokip Tumbuh di Titik Koma
16 Apr 2026



